Kebutuhan sapi potong di Indonesia masih rendah dan kurang merata di beberapa tempat di Indonesia. Contohnya, sapi potong di Kaltim hanya terpenuhi seperempat dari kebutuhan pasar, sedangkan Kalsel (Kab. Tanah Laut, Tanah Bumbu, Tavalong, dan Kota Baru) surplus sapi dan dapat mengekspor sapi ke provinsi lain.
Kendala utama dalam budidaya sapi potong konvensional adalah minimnya ketersediaan pakan berkualitas secara berkelanjutan, akibat ketergantungan terhadap musim.
Salah satu upaya mengatasi pemenuhan sapi potong adalah mengimplementasikan SISKA, sistem integrasi sapi-kelapa sawit, disebut pula SITT (Sistem Integrasi Tanaman Ternak), yaitu limbah sawit dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi, yang sesungguhnya mudah pelaksanaannya dan sangat menguntungkan dari sisi kesejahteraan masyarakat, produktivitas sawit, dan produktivitas sapi.
Siska dianggap menguntungkan, karena
- Pakan di perkebunan sawit melimpah, tak tergantung musim.
- bahan konsentrat beserta formula dan teknologi pembuatannya tersedia.
- Penyiapan sumber pakan, formula pakan, dan pemeliharaan sapi dilakukan secara seragam. Bila bibit sapi berkualitas unggul, maka produksi daging akan berkualitas spesifik.
- Sapi dapat berfungsi sebagai produksi daging, pengolah limbah, penghasil listrik (biogas) dan pupuk organik (kompos).
- Teknologi terkini dilakukan pada setiap tahapan: produksi daging, pengolah limbah, penghasil listrik (biogas), dan pupuk organik.
- Pemeliharaan ternak berada dalam skala ekonomi kawasan (tidak terpencar-pencar) dengan norma efisiensi pada setiap tahapan, sehingga efisiensi akan semakin tinggi.
- Gerakan swasembada daging lebih dapat diwujudkan.
Provinsi yang melakukan SITT: Babel (Kab.Babar), Kaltim, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Sumsel, Papua, Bengkulu (PT Agricinal),
Sistem itu akan berjalan bila pengusaha sawit :
- mengikhlaskan limbah sawitnya untuk dijadikan pakan ternak
- memandang bahwa usaha sapi potong juga menguntungkan dengan cara melakukan kerjasama dengan para peternak
- memanfaatkan kotoran sapi (padat atau cair) sebagai pupuk tanaman sawit
Bila hal itu tercapai, maka populasi ternak dan kesuburan tanah sawit akan meningkat. Selain itu, beberapa keuntungan bagi peternak yang mengembangkan SITT adalah:
- Melakukan diversifikasi penggunaan sumberdaya produksi
- Mengurangi risiko usaha akibat faktor produksi
- Meningkatkan produksi atau pendapatan keluarga
- Meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja
- Meningkatkan efisiensi penggunaan input produksi atau mengurangi biaya produksi
- Mengurangi ketergantungan energi kimia dan biologi
- Mampu mengembangkan rumah tangga peternak yang lebih mandiri dalam hal pangan, energi (biogas), dan pendapatan secara berkelanjutan
- Sistem ekologi lebih asri, ramah lingkungan, tidak menimbulkan polusi (zero waste).
Model PIP (Pola Inti Plasma) dan PKOA (Pola Kerjasama Operasional Agribisnis) dapat diterapkan pada Siska. Pada model PIP, Koperasi / Perusahaan perkebunan sawit berperan sebagai inti, dan kelompok tani-ternak sebagai plasma. Sementara, pada model PKOA, kelompok tani-ternak menyediakan sarana produksi (sudah memiliki sedikit modal), dan perusahaan (menjadi mitra peternak) menyediakan modal / sarana lain yang tidak dapat dipenuhi kelompok.
Namun, masih sangat sedikit perusahaan (15 dari 1500 perusahaan sawit) memanfaatkan sistem integrasi sapi-sawit, sehingga peternak akan mustahil mendapatkan pakan dari limbah sawit. Perusahaan swasta baru ada 5 perusahaan sawit yang serius mengembangkan sapi; yaitu PT Agricinal (3000 ekor, Bengkulu Utara), PT Citra Borneo Indah (15.000 ekor, solid, pelepah, gulma, BIS; pupuk berasal dari kotsa dan usa), PT Medco Agro, PT Bumitama Guna Jaya Agro (pangkalan Bun, Kalteng), dan PT Buana Karya Bakti (Kalsel).
Sesungguhnya, perkebunan sawit menyediakan sumber hijauan yang melimpah, dan tidak tergantung musim, dan konsentrat dengan formula pakan, dan teknologi pembuatannya yang tersedia. Di lain fihak, dalam peternakan konvensional, ketersediaan sumbar hijauan pakan bersifat musiman (tergantung musim), berasal dai luar milik petani-peternak atau dari daerah lain, dan kemampuan pemberian konsentrat yang terbatas.
Sesungguhnya, perkebunan sawit menyediakan sumber hijauan yang melimpah, dan tidak tergantung musim, dan konsentrat dengan formula pakan, dan teknologi pembuatannya yang tersedia. Di lain fihak, dalam peternakan konvensional, ketersediaan sumbar hijauan pakan bersifat musiman (tergantung musim), berasal dai luar milik petani-peternak atau dari daerah lain, dan kemampuan pemberian konsentrat yang terbatas.
Pakan ternak dari sawit yang perlu dimanfaatkan maksimal:
- BIS (Bungkil Inti Sawit), sekitar 30% dalam campuran pakan ternak (masih sering diekspor untuk pakan ternak asing oleh pengusaha; mohon stop ekspor BIS, karena sapi lokal memerlukannya).
- Pelepah sawit
- Tandan kosong sawit (tankos, perlu difermentasi)
- Lumpur sawit (solid decanter)
- Serat perasan buah
- Rumput hijauan antar tanaman (cover crop)
- Gulma sawit
SISTEM INTEGRASI SAPI-JAGUNG
Peternakan sapi di Desa Banyubang, Kec. Solokuro, Lamongan, Jatim, memanfaatkan tanaman jagung sebagai pakan. Setelah memanen jagung, batang dan bonggol, dan kulit jagung diolah menjadi pakan sapi yang diberikan secara langsung atau via fermentasi. Kotoran sapi diubah menjadi biogas sebagai pembangkit tenaga listrik, sedangkan limbah biogas digunakan sebagai pupuk granul organik. Tidak ada limbah jagung yang tersisa, semuanya terpakai.
SISTEM INTEGRASI PADI-TERNAK (SIPT)
Program terobosan lainnya adalah SIPT yang lazimnya disebut dengan istilah CLS (Crop Livestock System) dengan tujuan menghemat penggunaan pakan ternak, pupuk dan lahan, dengan biaya semurah mungkin sehingga produksi ternak dan jerami padi (bekatul/dedak) meningkatkan pendapatan petani-peternak. Program ini memanfaatkan sumber daya lokal jerami padi sebagai pakan ternak dan kotoran sapi untuk diproses menjadi pupuk organik. Petani memiliki lahan sawah irigasi sekaligus memelihara ternak sapi.
Teknologi utama SIPT adalah 1) teknologi budidaya ternak; 2) teknologi budidaya padi; dan 3) teknologi pengolahan jerami (via fermentasi) dan kompos.
Provinsi yang menerapkan program ini: NTT (Lombar, Bima), Jatim (Blitar, Magetan), Jabar (Subang, Karawang, Kuningan, dan Majalengka).
SISTEM INTEGRASI TERNAK-GEDEBOG PISANG (+eceng gondok)
Budidaya tanaman pisang mendapatkan produk samping berupa batang (gedebog), daun, buah afkir, dan anakan tanaman hasil penjarangan yang semuanya berpotensi sebagai komponen ruminansia. Salah satu cara pembuatan awal pakan ternak dari gedebog pisang dan tambahan nutrisi lainnya (ampas tahu, SOC, dll) yang diaduk merata dapat dilihat disini, kemudian dimasukkan ke dalam drum, tutup rapat, agar proses fermentasi berlangsung selama 3 jam (ada penaikan suhu, perubahan warna, dan adanya pelapukan).
Gedebog pisang tidak dapat diberikan langsung, karena nilai palatabilitasnya rendah, akibat adanya unsur tannin senyawa phenol yang mengganggu kecernaan bahan organik khususnya protein dengan terbentuknya ikatan kompleks tannin-protein berlebihan yang sulit dicerna, dan adanya kandungan serat kasar yang tinggi. Oleh karena itu, gedebog pisang harus dikenai teknologi bioproses fermentasi anaerob dengan hasil akhir silase batang pisang. Di sisi lain, kadar nutrisinya juga masih kurang, sehingga perlu diperkaya dengan tambahan nutrisi yang diaduk merata, misalnya umbi singkong, biji jagung, eceng gondok, bekatul, ampas tahu, dedak, garam, larutan SOC, dll.
KAMBING-SAWIT
| Pelepah cacah |
Disusun oleh Fathurrachman Fagi; WA 0812-1088-1386; ffagi@yahoo.com

