javascript:void(0)

Pages

Monday, December 31, 2018

Limbah Plastik jadi campuran Aspal

Limbah plastik mulai dilirik sebagai penguat dan penyetabil jalan aspal. Jalan raya terdiri atas 90% bebatuan, batu kapur, dan pasir, sedangkan 10% adalah bitumen atau aspal untuk merekatkan bebatuan dan pasir. Sementara, pelet plastik bersih dari pungutan limbah plastik diklaim dapat menjadi campuran bitumen/aspal, sehingga membuat jalan lebih tahan lama, bebas lubang dna patahan, dan stabilitasnya meningkat 40%. Semula, teknologi campuran limbah plastik dengan aspal ditemukan oleh Rajagopalan Vasudevan, Profesor Kimia di Thiagaraj College of Engineering (TCE), India. Dia mencampur aspal dengan biji plastik yang dipanaskan dengan ter panas. Tidak ada batasan tentang jenis plastik, semua jenis sampah plastik seperti kantong plastik, gelas plastik, botol plastik hingga aneka kemasan makanan ringan dapat dimanfaatkan. 

Aspal dibuat dengan cara campuran agregat dipanaskan hingga suhu 165 oC, kemudian biji limbah plastik (dicincang kecil-kecil) dicampurkan ke agregat selama 30-60 detik.Lalu aspal/bitumen dipanaskan pada suhu itu dicampurkan hingga menjadi campuran yang baik.
Rajagopalan Vasudevan
Pada tanggal 15 juni 2017 Indonesia (diwakili Safri Burhanuddin, Depitu Menko Bidang kemaritiman) meneken MoU di Bali dengan TCE India (pemilik paten, diwakili sendiri oleh Rajagopalan Vasudevan) guna mengganti semua jalan dengan jalan berbahan plastik sekitar 2017 hingga 2025 mendatang. Proyek pertama akan dibuat jalan di JCC (Jakarta Convention Center) dengan campuran plastik 10% (20% untuk plastik kresek, yang dicacah menjadi 4 mm, ~Rp.4000/kg) dengan biaya Rp.1 miliar/km, lebih murah dibandingkan dengan jalan konvensional (th 2014, Rp.27miliar/km). Di samping biaya jalan lebih murah, daya tahan jalan lebih lama, lebih bagus, lebih kuat, lebih stabil, dan pengurangan sampah secara nasional. Setiap kilometer jalan dengan lebar 7 meter, membutuhkan campuran plastik sebanyak 2,5-5 ton. Jumlah plastik tahun 2019 diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14% dari total sampah yang ada, maka limbah plastik tersebut dapat menyumbang kebutuhan jalan sepanjang 190.000 km.
Balai Litbang Kemen PUPR membuat pilot project pembangunan jalan di Bekasi. Sementara, uji-coba sepanjang 700m di Universitas Udayana, Bali telah diaksanakan. Harapannya Indonesia harus dapat mengurangi sampah plastik laut sekitar 70% hingga tahun 2025.

Jalan di Gloucester, UK
Lebih dari 100.000 km jalan di India adalah jalan berplastik (yang telah dibersihkan, dikeringkan, diperkecil), menurut Laporan WEF (World Economic Forum), sehingga mampu melawan banjir dan panas ekstrim. Jalan-jalan di Cumbria dan Gloucester, Inggris juga bersalut plastik yang 60 % lebih kuat, sepuluh kali lebih lama, dan tahan terhadap patahan dan lubang.




Disusun oleh Fathurrachman Fagi; WA 0812-1088-1386; ffagi@yahoo.com