Limbah plastik mulai dilirik sebagai penguat dan penyetabil jalan aspal. Jalan raya terdiri atas 90% bebatuan, batu kapur, dan pasir, sedangkan 10% adalah bitumen atau aspal untuk merekatkan bebatuan dan pasir. Sementara, pelet plastik bersih dari pungutan limbah plastik diklaim dapat menjadi campuran bitumen/aspal, sehingga membuat jalan lebih tahan lama, bebas lubang dna patahan, dan stabilitasnya meningkat 40%. Semula, teknologi campuran limbah plastik dengan aspal ditemukan oleh Rajagopalan Vasudevan, Profesor Kimia di Thiagaraj College of Engineering (TCE), India. Dia mencampur aspal dengan biji plastik yang dipanaskan dengan ter panas. Tidak ada batasan tentang jenis plastik, semua jenis sampah plastik seperti kantong plastik, gelas plastik, botol plastik hingga aneka kemasan makanan ringan dapat dimanfaatkan.
Aspal dibuat dengan cara campuran agregat dipanaskan hingga suhu 165 oC, kemudian biji limbah plastik (dicincang kecil-kecil) dicampurkan ke agregat selama 30-60 detik.Lalu aspal/bitumen dipanaskan pada suhu itu dicampurkan hingga menjadi campuran yang baik.
| Rajagopalan Vasudevan |
Balai Litbang Kemen PUPR membuat pilot project pembangunan jalan di Bekasi. Sementara, uji-coba sepanjang 700m di Universitas Udayana, Bali telah diaksanakan. Harapannya Indonesia harus dapat mengurangi sampah plastik laut sekitar 70% hingga tahun 2025.
Lebih dari 100.000 km jalan di India adalah jalan berplastik (yang telah dibersihkan, dikeringkan, diperkecil), menurut Laporan WEF (World Economic Forum), sehingga mampu melawan banjir dan panas ekstrim. Jalan-jalan di Cumbria dan Gloucester, Inggris juga bersalut plastik yang 60 % lebih kuat, sepuluh kali lebih lama, dan tahan terhadap patahan dan lubang.
Disusun oleh Fathurrachman Fagi; WA 0812-1088-1386; ffagi@yahoo.com
| Jalan di Gloucester, UK |
Disusun oleh Fathurrachman Fagi; WA 0812-1088-1386; ffagi@yahoo.com